she.id

Kisah Perempuan di Balik Sukses Toko Online Fashion Muslim

Kisah Perempuan di Balik Sukses Toko Online Fashion Muslim
Ilustrasi perempuan membuka website fashion muslim (Shutetrstock)

She -  Apa yang akan kamu lakukan? Nafisa Bakkar bertanya kepada dirinya sendiri saat memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai manajer kewirausahaan dan meluncurkan situs fashion perempuan Muslim.

Nafisa (24), perempuan yang tinggal di London sempat khawatir jika meninggalkan pekerjaannya, konsekuensinya dirinya harus berjuang keras membuat situs fashion-nya tetap hidup. Namun empat bulan kemudian, tepatnya pada Januari 2016, ia meluncurkan Amaliah.

Amaliah adalah blog berita dan toko pakaian online. Setelah berjalan hampir 18 bulan, web tersebut mampu menarik 30.000 pengunjung per bulan. Web itu memberi ruang busana modis dari pengecer online, sambil tetap running sebagai blog yang memberi platform suara perempuan Muslim.

Dengan gelar ilmu alam yang disandangnya, Nafisa tidak pernah menyangka akan merambah dunia mode. Namun setelah lulus pada 2014, ia melihat celah pasar pakaian trendi yang tidak melanggar budaya.

"Saya frustrasi pada diri saya sendiri, saudara perempuan saya dan banyak perempuan muda Muslim lainnya yang merasa sulit menemukan pakaian untuk menutupi diri mereka namun tetap terlihat bagus," ujar Nafisa.

Seperti dilansir Wired.co.ukNafisa membangun Amaliah dengan bantuan adiknya Selina (31) dari meja dapur orang tua mereka. Situs tersebut dengan cepat berubah menjadi platform blogging, dengan 50 penulis yang berkontribusi dari komunitas Muslim.

"Saya selalu percaya ada misi lebih besar di balik apa yang sedang kami lakukan," kata Bakkar.

"Jika Anda mendengarkan retorika di dunia sekarang, Anda menyadari betapa pentingnya suara perempuan Muslim untuk diperhatikan, dan agar ada dalam cahaya positif."

Baca Juga: Dibalik Kesuksesan Medina Zein Terselip Doa Orang Tua
5 Aktor Tampan dan Religius Idaman Muslimah

Kini tim Amaliah telah berkembang menjadi lima orang, namun Nafisa mengakui menemukan rekruitan baru yang cocok dengan misi situs tersebut bukan pekerjaan mudah.

"Kami adalah perempuan Muslim yang sangat berbeda dengan tim start-up biasa. Jika Anda melihat budaya startup, seringkali memiliki getaran yang sangat laddish, boozy. Kami bukan tim seperti itu," jelasnya.

Namun hal yang mengejutkan, dirinya tidak mengalami banyak kesulitan untuk mencari investor. Setelah bergabung dengan jaringan akselerator Ignite, nilai Amaliah meningkat menjadi "enam digit" setelah masuknya dana dari investor.

"Ketika kami mulai, saya berkata: 'Kami adalah etnis minoritas, kami perempuan dan kami tidak akan kemana-mana.' Tapi orang telah membuka pintu untuk kita dan mereka sangat mendukung," katanya.

Selanjutnya, Nafisa akan menambah kerja sama dengan merek-merek fashion. Dia berharap pebisnis pemula menjadikan Amaliah sebagai sumber inspirasi. Atau mereka akan terus berpikir," apa yang akan dilakukan Nafisa Bakkar?"

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya