she.id

Presiden Austria Tak Larang Perempuan Berjilbab

Presiden Austria Tak Larang Perempuan Berjilbab
Ilustrasi perempuan berhijab (Shutterstock)

She - Presiden Austria Alexander Van der Bellen tidak mempermasalahkan perempuaan Muslim memakai jilbab. Bahkan sebagai bentuk solidaritas terhadap umat Islam dalam melawan "Islamophobia" yang merajalela, dia menyerukan semua perempuan mengenakan jilbab.

Mantan pemimpin Partai Hijau sayap kiri itu mengatakan kebebasan berekspresi adalah hak dasar.

"Ini hak setiap perempuan untuk selalu berpakaian seperti yang diinginkan, itulah pendapat saya mengenai masalah ini," ujarnya di depan murid sekolah.

"Dan bukan hanya perempuan Muslim, semua perempuan bisa mengenakan jilbab, dan jika Islamaphobia yang nyata dan marak ini terus berlanjut, akan datang suatu hari dimana kita harus meminta semua wanita memakai jilbab - semua - karena solidaritas kepada mereka yang melakukan itu untuk alasan agama," kata Van der Bellen.

Van der Bellen menanggapi pertanyaan dari seorang siswi yang berpendapat larangan jilbab bukan prestasi dan akan menutup sebagian dari pasar tenaga kerja. Komentar Van der Bellen dibuat pada Maret, namun muncul setelah disiarkan televisi Austria, di tengah perdebatan di negara tersebut dan di negara tetangga tentang larangan burqa.

Seorang juru bicara mengatakan setelah serangan teror ISIS di Eropa, Van der Bellen ingin melihat perwakilan Muslim di Austria membuat "pernyataan yang lebih jelas" yang menekankan bahwa kekejaman tidak dapat dibenarkan dalam Islam.

Baca Juga: Anggunnya Istri Andre Taulany Kenakan Hijab
Hijab Terbaru Rancangan Putri Aa Gym Terinspirasi Kubah Masjid

Seperti dilansir Independent, Kantor Presiden mengatakan larangan hanya dibenarkan dalam keadaan tertentu, seperti hakim wanita, di mana pakaian agama dapat menimbulkan pertanyaan mengenai netralitas profesional mereka.

Van der Bellen akan menerapkan pembatasan pada semua simbol agama secara setara, termasuk Kristen dan Yahudi.

Perdebatan terkait pembatasan jilbab telah terjadi di Eropa setelah gelombang serangan teror dan krisis pengungsi.

Parlemen Jerman mendukung rancangan Undang Undang yang melarang perempuan yang bekerja di dinas sipil, pengadilan dan militer mengenakan burqa dan niqab pada hari Kamis.

Dukungan larangan jilbab penuh telah berkembang di Eropa sejak Prancis menjadi negara pertama yang menerapkan Undang Undang tersebut pada 2011. Langkah Prancis diikuti Belgia dan Bulgaria. Sementara larangan parsial diberlakukan di Austria dan sebagian Spanyol, Italia dan Swiss. 

Video trending pilihan www.she.id

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya