she.id

Rahmah, Muslimah China yang Dianggap Gila Karena Memakai Jilbab

Rahmah, Muslimah China yang Dianggap Gila Karena Memakai Jilbab
Ilustrasi Rahmah muslimah asal china. (Shutterstock)

She - Seorang muslimah di China bernama Rahmah menceritakan pengalamannya yang mendapatkan perlakuan diskriminatif karena memakai jilbab. Rahmah yang terlahir dari keluarga Muslim di provinsi Qunhai mengaku dipaksa untuk menemui konsultan kejiwaan karena memakai bersikukuh hijab.

Namun kini dia terus berupaya agar perempuan Muslim di China berani mengangkat identitasnya. Dalam percakapan dengan BBC, Rahmah menegaskan, dirinya tetap akan mengenakan hijab.

"Saya akan tetap memakai jilbab dan tetap yakin pada agama saya. Saya perempuan China berjilbab," ungkapnya.

Nama asli Rahmah adalah Ye Qingfang. Namun ia senang dengan nama Rahmah karena berarti anugrah.

Saat ini terdapat sekitar 23 juta pemeluk Islam di China. Meski di antara para pemeluk agama Islam mengenakan jilbab, namun kebiasan itu masih dipandang sebagai sesuatu yang tabu bagi sebagian warga China.

Baca Juga: Bayi Baru Lahir Sudah Memiliki Perasaan Terhadap Ibunya
Luar Biasa! Tingkat Kecerdasan Bocah Ini Melampaui Einstein

Rahmah mengaku mulai memakai jilbab saat berada di perguruan tinggi dan semakin menekuni Islam.

"Di perguruan tinggi saya putuskan untuk memakai jilbab," kata dia.

"Identitas Muslim membuat saya unik dan tidak biasa di China. Banyak orang yang salah mengerti dan berprasangka karena saya memakai jilbab," ujar Rahmah.

Saat menjalani ibadah, Rahman mengaku sempat ditanya dan diminta pergi ke psikolog.

"Pada awalnya, orang tak mengerti saya. Mereka menyuruh saya ke konsultan kejiwaan. Mereka bertanya apakah saya dimanipulasi oleh kelompok-kelompok setan atau terkait dengan itu,"curhatnya.

Ia sempat mengajar Bahasa China di kota asalnya, Qinhai. Namun dia pindah ke Beijing karena tidak bisa mengenakan penutup kepala.

"Sekolah tak mau guru yang memakai jilbab. Mereka merasa saya akan menjadi pengaruh buruk," ungkapnya.

Akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke Beijing pada 2012 dan membuka usaha busana Muslim.

Rahmah mengaku ingin mewakili perempuan China Muslim yang berani mengangkat identitasnya.

"Saya ingin menjadi wajah jilbab di China, mewakili perempuan Muslim."

"Saya berharap perempuan Muslim percaya diri untuk memakai jilbab, dan tetap tenang dan elegan di tempat-tempat kerja," pungkasnya.

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya