she.id

Band Metal Berjilbab Perangi Stereotip Muslim

Band Metal Berjilbab Perangi Stereotip Muslim
Firdda Kurnia, pemimpin Hijab Band Voice of Baceprot, saat mengisi acara perpisahan sekolah di Garut, Indonesia, 15 Mei 2017. (REUTERS / Yuddy Cahya)

She -  Berbeda dengan grup band heavy metal lainnya, penampilan personel "Voice of Baceprot" (VOB) atau "Suara Bising" tidak terlihat garang. Tiga personel DOB, semuanya perempuan berjilbab.

Dibentuk pada 2014, tiga personel band remaja ini bertemu di sebuah sekolah di Provinsi Jawa Barat. Mereka menggunakan musik untuk memerangi stereotip perempuan muslim sebagai penurut dan tak berani bersuara.

Firdda Kurnia (16), voalis dan gitaris DOB mengatakan jilbab, atau kerudung bukan penghalang untuk mengejar mimpi menjadi bintang heavy metal.

"Menurut saya, kesetaraan gender harus didukung, karena saya merasa saya masih menjajaki kreativitas saya, sementara pada saat bersamaan, tidak mengurangi kewajiban saya sebagai seorang perempuan Muslim," ujarnya seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Tampil Berjilbab, Mita 'The Virgin' Banjir Pujian
Penelitian: Murottal Alquran Hilangkan Stres pada Sapi Perah

Saat tampil di acara wisuda di sekolah lain baru-baru DOB dengan cepat memiliki penggemar.

"Saya tidak melihat sesuatu yang salah dengan itu," kata salah satu penggemar DOB, Teti Putriwulandari Sari.

"Tidak ada hukum yang melarang wanita mengenakan jilbab dari bermain musik hardcore.

"Ini juga berkaitan dengan hak asasi manusia. Jika seorang gadis muslim memiliki bakat untuk bermain drum atau gitar, mengapa dia tidak diperbolehkan?"

Selain membawakan lagu dari band terkenal seperti Metallica dan Slipknot, mereka juga menampilkan lagu sendiri yang menyuarakan isu kondisi pendidikan di Indonesia.

Di kota Garut, di mana band ini dibentuk merupakan rumah bagi beberapa sekolah Islam. Masyarakat sekitar juga menerima kegiatan mereka bermusik yang dianggap sesuai dengan usia mereka.

"Hal ini biasa untuk melihat sekelompok gadis-gadis mengenakan jilbab bermain musik metal atau bahkan wanita berteriak," kata Muhammad Sholeh, seorang guru di sekolah Islam asrama Cipari.

"Tapi kita sedang berbicara tentang musik metal di sini, yang keras."

Sementara Maudya Mulyawati, seorang mahasiswi, merasa band ini harus fokus pada nyanyian "Salawat" doa untuk Nabi Muhammad.

Seorang pejabat dari badan ulama terkemuka mengatakan meskipun kelompok itu mungkin memicu benturan budaya di daerah konservatif, namun ia tidak merasa itu merusak nilai-nilai Islam.

"Saya melihat ini sebagai bagian dari kreativitas remaja," tambah Sekjen Seni dan Budaya Divisi Islam, Majelis Ulama Indonesia Nur Khamim Djuremi. 

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya