she.id

Sumba Hadirkan Tenun Ikat Berkualitas

Sumba Hadirkan Tenun Ikat Berkualitas
Ilustrasi : Tenun yang dihadirkan masyarakat Sumba.

She - Tenun ikat dari NTT dikenal mahal harganya jika dibanding dengan kain-kain bikinan pabrik. Namun, ada yang setara dengan kain songket dari Jambi, batik tulis yang bermutu tinggi atau kain sutra Sulawesi.

Harga termurah kain tenun sekitar Rp250.000 selembar untuk jenis kain yang terbuat dari benang pabrik dengan memakai celup pewarna buatan pabrik juga. Akan tetapi, ada pula kain yang harganya mencapai sepuluh juta rupiah bila terbuat dari benang kapas yang dipintal tangan dan dicelup dengan pewarna alami.

"Harga kain tidak sama karena dari tangan penenun kain-kain bisa melalui banyak tangan lain sebelum mencapai ke tangan pembeli. Harga bisa berlipat ganda," kata Felicitas Ambukaka, perempuan dari etnis Kodi, Sumba, yang kini merintis usaha pemasaran tenun Sumba.

Felicitas mencoba memangkas harga jual dengan cara berhubungan secara langsung dengan penenun di kampung-kampung sehingga harga dan ongkos bisa ditekan.

Rata-rata kain yang dipasarkannya berharga antara Rp200 ribu hingga Rp2 juta. Dengan harga ini, mampu bersaing dengan harga di tempat penjualan yang lain, bahkan kini relatif banyak toko oleh-oleh yang memesan kain tenun darinya.

"Bagi saya untung sedikit-sedikit tidak apa-apa agar makin banyak laku dan makin banyak orang memakai tenun Sumba," katanya seperti dilansir dari Antara News (12/7/2017)

Ikat Sumba sangat unik, punya daya tarik tersendiri dari sisi warna dan motif dan juga cocok dimodifikasi untuk busana modern. Dengan demikian, bisa makin melekat di hati.

Adalah jamak terlihat perempuan dan laki-laki Sumba mengenakan kain atau sarung tenun kebanggaan mereka untuk sehari-hari, apalagi pada hari khusus, bahkan anak-anak dan remaja juga sudah memakainya.

Kain-kain dengan pewarna modern terlihat lebih cerah dan warna-warni, sedangkan kain dengan bahan alami memiliki warna yang lembut. Para pencintanya akan memilih sesuai dengan selera dan kemampuan kantong.

Baca Juga: Banyak Keluhan Wisatawan, Rumah Makan Diminta Tak Getok Harga
Yogyakarta Kembali Hadirkan Wisata Pinus Pengger Nan Mempesona

"Saya sudah mulai mengenakan kain ikat pada usia 5 tahun dan saat ini saya merasa bangga serta percaya diri bila memakai tenun ikat," kata Anggriani Irwanto, perempuan Sumba yang berdinas sebagai pegawai negeri sipil di Kabupaten Sumba Barat Daya dan pernah lama berkarier di Jakarta.

Sejak kembali ke Sumba beberapa tahun lalu, Anggriani mengaku lebih suka mengenakan sarung Sumba pada peristiwa-peristiwa khusus ketimbang memakai busana pesta modern atau dari daerah lain.

Baginya, memakai tenun ikat Sumba membuatnya tampil lebih menarik sekaligus menunjukkan jati diri etnis.

Video Trending Pilihan Editor : www.she.id

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya