she.id

Menapaki Kisah Desa Adat Kampung Naga Tasikmalaya

Menapaki Kisah Desa Adat Kampung Naga Tasikmalaya
ilustrasi : salah satu warga Kampung Naga, Tasikmalaya (shuttersstock)

She - Beberapa orang tampak kelelahan setelah mengunjungi Kampung Naga di Tasikmalaya. Bagaimana tidak, untuk mencapai lokasi desa adat tersebut, pengunjung harus menuruni 439 anak tangga.

Dan apabila pengunjung akan kembali ke pintu masuk, maka harus menanjak menapaki jumlah anak tangga yang sama. Perjalanan menuju Kampung Naga melewati anak tangga tersebut ditemani dengan pemandangan bentangan sawah, tebing, dan sungai.

Di Kampung Naga, pengunjung tidak akan menemui hal-hal yang berhubungan dengan makhluk mitologi naga. Kampung Naga merupakan sebuah desa yang dihuni oleh masyarakat adat yang masih memegang teguh ajaran leluhur mereka.

Asal kata "naga" diambil dari bahasa Sunda "nagawir" yang artinya kampung di bawah tebing. Kampung Naga merupakan kompleks desa seluas 1,5 hektare yang dikelilingi oleh tebing-tebing dan berada di sebelah aliran Sungai Ciwulan yang berhulu di Gunung Cikuray.

"Di Kampung Naga, yang dibatasi adalah luas arealnya, bukan bangunannya. Batasnya harus 1,5 hektare dan dikelilingi pagar bambu," kata Darmawan (48), warga kampung adat yang juga bekerja sebagai pemandu seperti yang dilansir dari Antara News (16/7/2017).

Di dalam pagar bambu yang membatasi areal kampung, terdapat rumah penduduk dan bangunan-bangunan sakral. Sementara di luar pagar merupakan tempat-tempat yang dianggap "kotor", seperti kamar mandi dan kandang ternak.

Masyarakat Kampung Adat memilih untuk hidup dengan memegang teguh ajaran dan petuah leluhur. Hal tersebut ditunjukkan dengan keseharian mereka yang melestarikan kearifan lokal, menolak kesenian modern, dan memilih untuk tidak menggunakan listrik.

Warga adat Kampung Naga sama sekali tidak memanfaatkan listrik untuk menjaga rumah-rumah panggung mereka agar tidak terbakar mengingat semua bahan bangunan rumah berasal dari alam, seperti atap yang terbuat dari ijuk dan daun tepus serta tembok bilik dari bambu.

"Penyangga dari batu agar mencegah rayap," ucap Darmawan.

Pintu dapur di rumah panggung Kampung Naga juga terbuat merupakan bilik sasak anyaman bambu agar warga kampung dapat menjaga api agar tidak membakar rumah.

Menurut penuturan Darmawan, Kampung Naga pertama dikunjungi oleh orang asing pada tahun 1980-an, yaitu oleh seorang warga negara Belanda. Sedangkan pengunjung lokal mulai ramai berkunjung ke Kampung Naga sekitar 1993-1994.

Darmawan mencatat sudah ada pengunjung dari 12 negara yang pernah berkunjung ke Kampung Naga.

[baca_juga]

Ia menceritakan bahwa Kampung Naga bukan merupakan objek wisata untuk menghindari komersialisasi, seperti penarikan retribusi dan tiket bagi pengunjung. Pemberlakukan biaya masuk pernah terjadi sekitar 1999, namun kemudian warga memutuskan menolak desa adatnya dijadikan tempat wisata.

"Tamu boleh saja berkunjung tanpa bayar tiket, karena kami sendiri menjunjung tinggi silaturahim. Namun apabila ada acara adat khusus, tamu tidak diperbolehkan mengambil foto atau video," ucap Darmawan.

Acara adat tersebut biasanya merupakan kegiatan yang diselenggarakan di Bumi Ageng yang menjadi salah satu tempat sakral dan keramat peninggalan nenek moyang. Bumi Ageng salah satunya digunakan warga adat untuk menjalankan ritual sebelum berziarah ke makam leluhur yang berada di hutan keramat sebelah timur laut Kampung Naga.

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya