she.id

Tiga Hukum Bunga Bank Berdasarkan Syariat

Tiga Hukum Bunga Bank Berdasarkan Syariat
Ilustrasi Pinjaman Dana KTA

She -  Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 2002 menyatakan ada hukum yang berlaku bagi transaksi bunga bank, yakni haram, boleh, dan syubhat.

Keputusan tersebut diambil setelah menilik pada realitas belum tersebarnya secara merata praktik perbankan syariah di Indonesia.

Umumnya sumber pembiayaan masyarakat di Tanah Air masih berasal dari model perbankan konvensional.

Menurut NU, kategori haram merupakan bentuk utang yang dipungut melalui rentenir, sedangkan kategori boleh atau halal disebabkan tidak adanya syarat pada waktu akad atau perjanjian kredit.

Sementara itu, kategori syubhat yang tak tentu halal-halamnya, masih menjadi perdebatan para ahli hukum. Status syubhat diharuskan adanya pemilahan bentuk pinjaman, yakni konsumtif atau produktif.

Dalam bentuk pinjaman produktif, bunga bank merupakan risiko dari kredit bank dan hal tersebut diperbolehkan. Sedangkan jika digunakan sebagai pinjaman konsumtif, makan statusnyanya diharamkan.

Baca Juga: Wacana Bekerja Sebagai Ibu Rumah Tangga Akan Dapat Gaji Perbulan
Tangis Menantu Kenang Mendiang Momen Indah Ustaz Arifin Ilham

Meski ada perbedaan pandangan mengenai hukum syubhat, untuk menghindari praktik riba pada bunga bank konvensional, sudah mulai banyak bentuk perbankan syariah sebagai pilihan bagi umat Islam.

Pada praktiknya, telah banyak model perbankan syariah yang menggunakan berbagai macam cara terkait akad kredit yang terhindar dari bermacam hal berunsur riba.

Pasalnya perbankan syariah juga menggunakan modal yang terkumpul untuk investasi langsung dalam berbagai bidang usaha.

Meski begitu, untuk menghindari masyarakat terjebak dari kebingungan mengenai hukum bunga bank, pada musyawarah tersebut juga diputuskan bahwa pilihan yang lebih tepat adalah dengan menyatakan bahwa bunga bank adalah haram.

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya