she.id

Rentetan Efek Negatif Usai Makan Burger Dengan Jus Jeruk

Rentetan Efek Negatif Usai Makan Burger Dengan Jus Jeruk
Menu burger di salah satu restoran cepat saji (ilustrasi) (Foter/eblaser)

She - Mendengar nama makanan seperti buger dan disandingkan dengan jus jeruk, tentu sudah terbayang betapa nikmatnya bukan? Namun hati-hati, ternyata ada resiko dibalik nikmatnya menu tersebut.

Menurut penelitian terbaru yang dilansir Daily Mail, jika kamu makan burger ditambah jus jeruk, maka dipastikan berat badanmu akan bertambah. Tidak hanya itu, kamu juga akan merasa lebih cepat lelah.

Periset menemukan bahwa mengonsumsi makanan yang dikemas protein dengan minuman manis dapat menurunkan oksidasi lemak hingga delapan persen.

Tumpukan oksidasi lemak-memulai pemecahan molekul lemak dan memberi orang energi jangka panjang.

Peneliti memilih untuk mempelajari ini sehingga mereka bisa menganalisis bagaimana minuman yang mengandung gula mempengaruhi cara tubuh membakar lemak setelah makan.

Saat ini minuman bergula merupakan sumber gula terbesar dalam makanan Amerika.

Dr Shanon Casperson, penulis utama studi tersebut mengatakan, "Kami menemukan bahwa sekitar sepertiga dari kalori tambahan yang diberikan oleh minuman manis tidak dikeluarkan, metabolisme lemak berkurang, dan butuh sedikit energi untuk memetabolisme makanan. Efisiensi metabolisme yang menurun ini mungkin "prima" pada tubuh untuk menyimpan lebih banyak lemak."

Tim peneliti merekrut 27 orang dewasa - 13 laki-laki dan 14 perempuan, semuanya dianggap memiliki berat badan yang sehat dan rata-rata berusia 23 tahun.

Baca Juga: Kulit Bawang Merah Ternyata Bisa Atasi Berbagai Penyakit
Sederet Makanan Anti Gemuk Buat Yang Suka Nyemil Malam

Setelah mengikuti serangkaian tes, tim peneliti menemukan bahwa para peserta sangat menyukai makanan gurih dan asin selama sekitar empat jam setelah makan makanan yang dipasangkan dengan minuman yang mengandung gula.

"Temuan menunjukkan bahwa minum minuman manis dengan makan berdampak pada kedua sisi persamaan keseimbangan energi.

Di sisi asupan, energi tambahan dari minuman tidak membuat orang merasa lebih puas," kata Dr Caserson menjelaskan.

"Di sisi pengeluaran, kalori tambahan tidak dikeluarkan dan oksidasi lemak berkurang. Hasilnya memberi wawasan lebih jauh tentang peran potensial dari minuman pemanis gula - sumber gula tunggal terbesar dalam makanan Amerika - dalam penambahan berat badan dan obesitas."

Periset mengatakan kemungkinan studi ini terbatas karena perubahan pola makan hanya diukur dalam waktu singkat.

Oleh karena itu, kehati-hatian harus digunakan saat melakukan ekstrapolasi data penelitian terhadap perubahan pola makan selama periode waktu yang lebih lama.

Selain itu, karena hanya pada orang dewasa dengan berat badan yang sehat dan sehat, para penulis mengingatkan bahwa individu yang kelebihan berat badan dapat merespons perubahan diet secara berbeda.

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya