she.id

'Sunnah Rasul' Intim di Malam Jumat Ternyata Hadis Palsu

'Sunnah Rasul' Intim di Malam Jumat Ternyata Hadis Palsu
Suami Mengajak Berhubungan Intim (Shutterstock)

She - Sudah jadi hal yang sering kita dengar jika kamis malam atau malam jumat datang, kata-kata 'Sunnah Rasul' sering terucap yang diartikan sebagai tindakan hubungan suami istri.

Ada perkataan yang dianggap sebagai hadis;

"Barangsiapa melakukan hubungan suami istri di malam Jumat (Kamis malam) maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi." (Dalam hadits yang lain disebutkan sama dengan membunuh 1000 atau 7000 yahudi)

Namun jika Sunnah Rasul yang dalam pemaknaannya dan pandangan syariatnya adalah sikap, tindakan, aktifitas, ucapan dan cara Rasulullah Shallalhu alayhi wa Sallam menjalani hidupnya, apakah kamis malam atau malam jumat bernarkah adalah Sunnah Rasul?

Benarkah malam Jumat sebagai malam yang dianjurkan untuk berhubungan seksual pasangan suami istri?

Baca Juga: Begini Cara Khusus Memikat Hati Muslimah Berhijab
Begini Cara Sederhana Bahagiakan Suami, Penting Dibaca Para Istri

Dikutip dari konsultasisyariah, Ustadz Abdullah Zaen, M.A menjelaskan bahwa belum pernah menemukan ayat Alquran atau hadis sahih yang menunjukkan anjuran tersebut.

Ustadz Abdullah Zaen juga menambahkan bahwa hadis Sunnah Rasul pada malam Jumat sama dengan membunuh 100 Yahudi adalah hadis palsu.

Hadis tersebut tidak ditemukan di dalam kitab manapun dan disinyalir adalah hadis karangan yang dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Beberapa pendapat mengemuka bahwa anjuran melakukan hubungan intim di hari Jumat seharusnya dilakukan sebelum berangkat shalat Jumat di siang hari, bukan pada malam Jumat, karena batas awal waktu mandi untuk shalat Jumat adalah setelah terbit fajar hari Jumat.

Ustadz Ammi Nur Baits menambahkan, bahwa ada hadis shahih namun didalamnya tidak menjelaskan secara rinci bahwa itu adalah hubungan badan antara suami istri yaitu:

“Barang siapa yang mandi pada hari Jumat dan memandikan, dia berangkat pagi-pagi dan mendapatkan awal khotbah, dia berjalan dan tidak berkendaraan, dia mendekat ke imam, diam, serta berkonsentrasi mendengarkan khotbah maka setiap langkah kakinya dinilai sebagaimana pahala amalnya setahun.” (H.R. Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah; dinilai sahih oleh Imam An-Nawawi dan Syekh Al-Albani)

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya