she.id

Ini Bahaya Bila Ibu Hamil Sering Main Ponsel

Ini Bahaya Bila Ibu Hamil Sering Main Ponsel
Ilustrasi hamil (Shutterstock)

She -  Kecanduan bermain ponsel nyatanya bisa membahayakan calon buah hati, untuk itu para ibu hamil disarankan untuk meminimalisir penggunaan gawai.

Sebuah studi menunjukkan, anak yang dilahirkan dari ibu yang kecanduang bermain ponsel, cenderung menjadi hiperaktif.

Laura Birks yang memimpin penelitian ini mengatakan ada beragam faktor yang bisa memengaruhi hal ini. Di antaranya radiasi elektromagnetik dari ponsel dan tentu saja pola asuh ketika bayi sudah lahirpun dapat mempengaruhi perilaku anak nantinya.

Laura dan rekan-rekannya melakukan penelitian terhadap puluhan ribu ibu dengan anak berusia 5-7 tahun. Ia menemukan relasi yang konsisten antara perilaku anak dan kebiasaan ibu selama hamil.

Semakin banyak waktu yang dihabiskan ibu hamil bermain ponsel, ada kecenderungan sang buah hati akan tumbuh menjadi anak yang hiperaktif.

Dalam data dirilis Reuters, apabila ibu hamil bermain ponsel minimal selama empat jam dalam sehari, ada kemungkinan sebesar 28 persen buah hati menjadi hiperaktif.

[baca_juga]

Seorang pediatrik dari University of California, Dr. Robin Hansen, mengharapkan penelitian yang lebih dalam mengenai hal ini.

"Sekarang kita harus mencari tahu lebih dalam, bagaimana ini bisa terjadi. Apakah memang sinyal elektronik yang berdampak pada otak dan tubuh? Atau ada relasi kebiasaan bermain ponsel dengan polas asuh dan interaksi dengan anak setelah lahir?" tuturnya.

Selain pertimbangan tersebut, memang sudah banyak yang menyarankan para ibu untuk mengurangi waktunya bermain ponsel saat sedang bersama anak.

Hansen melanjutkan, ketika orangtua sepenuhnya berkonsentrasi pada ponsel dan tidak mampu merespon cepat interaksi dengan sang anak, anak akan belajar merajuk. Anak akan terbiasa merengek agar bisa mengalihkan perhatian orangtua dari ponsel mereka.

"Anak menjadi belajar, orangtua baru akan memberi perhatian pada mereka setelah mereka menangis, marah, atau melempar sesuatu. Inilah yang kemudian akan berkembang menjadi perilaku hiperaktif," pungkas Hansen.

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya