she.id

Sedekah Paling Utama Menurut Rasulullah Adalah Menafkahi Keluarga

Sedekah Paling Utama Menurut Rasulullah Adalah Menafkahi Keluarga
Ilustrasi (Foto: Pixabay)

She - Tidak sedikit para pekerja yang menerima gaji hanya sampai di mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri). Mudah-mudahan kita tidak termasuk satu di antara mereka.

Rasulullah SAW memberikan anjuran dalam membelanjakan pendapatan yang kita terima dari hasil bekerja, terutama untuk menafkahi keluarga.

Seberapa pun besarnya pahala dari uang yang kita sedekahkan, pahalanya tak lebih besar daripada uang yang kita belanjakan untuk keperluan keluarga.

Minimal ada 3 hadis yang mampu memberikan semangat mencari nafkah, karena menafkahi keluarga lebih utama dari sedekah apapun.

Satu Dinar Lebih Utama untuk Keluarga

“Satu dinar yang engkau belanjakan di jalan Allah, satu dinar yang engkau belanjakan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau belanjakan untuk orang miskin, dan satu dinar yang engkau belanjakan untuk keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah yang engkau belanjakan untuk keluargamu.” (HR. Muslim)

Dalam hadis di atas menafkahi keluarga juga merupakan sedekah, bahkan pahalanya lebih besar daripada sedekah yang kita berikan pada kaum dhuafa ataupun membebaskan budak.

Baca Juga: Membaca Alquran Dapat Mencegah Alzheimer dan Pikun
Sederet Amalan Yang Bisa Hapus Segala Dosa Menjadi Pahala

Membeli Kebutuhan Keluarga Lebih Utama dari Membeli Perlengkapan Jihad

Dalam hadis lain Rasulullah SAW menerangkan keutamaan membelanjakan harta untuk keperluan keluarga.

“Dinar yang paling utama yang dibelanjakan oleh seorang lelaki adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk kudanya di jalan Allah (perlengkapan jihad), dinar yang ia belanjakan untuk sahabat-sahabatnya di jalan Allah.” (HR. Muslim)

Makanan yang kita makan dinilai sedekah

Besarnya pahala menafkahi keluarga juga dijelaskan Rasullullah dalam hadis di bawah ini.

“Apa yang engkau nafkahkan untuk makanmu, ia dinilai sebagai sedekah bagimu. Apa yang engkau nafkahkan untuk makan anakmu, ia dinilai sebagai sedekah bagimu. Apa yang engkau nafkahkan untuk makan istrimu, ia dinilai sebagai sedekah bagimu. Apa yang engkau nafkahkan untuk makan pembantumu, ia juga dinilai sebagai sedekah bagimu.” (HR. Ahmad)

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya