she.id

Penelitian Buktikan Jika Teman Bisa Buat Hidup Tambah Bahagia

Penelitian Buktikan Jika Teman Bisa Buat Hidup Tambah Bahagia
Tipe teman orang kaya (Foto: Ilustrasi)

She - Seseorang rentan tertular suasana hati temannya yang sedang baik atau justru buruk, menurut sebuah studi baru dalam jurnal Royal Society Open Science.

Dengan kata lain, kebahagiaan dan kesedihan, serta gaya hidup dan faktor perilaku seperti merokok, minum, obesitas, kebiasaan menjaga kebugaran, dan bahkan kemampuan untuk berkonsentrasi dapat menyebar melalui jejaring sosial, baik online maupun di kehidupan nyata.

Namun, hal ini seharusnya tidak menghentikan kamu bergaul dengan teman-teman yang mengalami kesedihan, karena efeknya tidak cukup besar untuk mendorong kamu ke dalam depresi.

Seperti dilansir laman Health, secara tak langsung, studi menunjukkan bagaimana teman benar-benar saling mempengaruhi, dan membantu menyingkirkan kemungkinan pertemanan terjadi karena orang cenderung tertarik dan bergaul dengan orang lain seperti mereka.

Untuk keperluan studi, para peneliti melibatkan sejumlah kelompok siswa menegah pertama dan atas, menanyai mereka soal depresi dan pertanyaan tentang teman terbaik mereka.

Baca Juga: Tidur Malam Selama 7 Jam 6 Menit Bisa Buat Hidup Sangat Bahagia
Ini Yang Terjadi Pada Tubuh Jika Kurang Waktu Tidur

Hasilnya, secara keseluruhan, anak-anak yang teman-temannya menderita bad mood lebih cenderung melaporkan mood buruk mereka sendiri.

Suasana hati mereka bahkan cenderung tidak membaik saat hal ini diingatkan lagi setelah enam bulan sampai satu tahun kemudian.

Sebaliknya, ketika para partisipan memiliki lebih banyak teman yang suasana hatinya bagus dan bahagia, suasana hati mereka cenderung membaik seiring berjalannya waktu.

Beberapa gejala yang terkait dengan ketidakberdayaan seperti depresi, kelelahan, dan kehilangan minat juga tampaknya mengikuti pola ini, atau oleh para ilmuwan disebut "penularan sosial."

"Tapi ini bukan sesuatu yang orang perlu khawatirkan, mungkin ini hanya sebuah "respons empatis normal yang kita semua kenal, dan sesuatu yang kita kenali dengan akal sehat," ujar Robert Eyre, seorang mahasiswa doktoral di University of Warwick's Centre for Complexity Science. 

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya