she.id

Kerja 55 Jam Seminggu Ternyata Tidak Baik Bagi Kesehatan Jantung

Kerja 55 Jam Seminggu Ternyata Tidak Baik Bagi Kesehatan Jantung
Ilustrasi stress akibat beban kerja (Foto: hypnosyspractice.co.uk)

She - Penelitian terbaru mengungkapkan bekerja lebih dari 55 jam seminggu secara signifikan meningkatkan risiko masalah jantung yang serius.

Orang yang bekerja berjam-jam tersebut 40 persen lebih mungkin mengalami detak jantung yang tidak teratur daripada mereka yang bekerja dalam minggu kerja normal 35 sampai 40 jam, menurut sebuah penelitian.

Bekerja dalam shift yang panjang sudah diketahui dapat meningkatkan risiko stroke, namun kaitannya dengan masalah irama jantung yang dikenal dengan istilah medis fibrilasi atrium.

Fibrilasi atrium adalah gangguan irama jantung yang paling umum, mempengaruhi sekitar satu juta orang di Inggris, dan dapat menyebabkan stroke, gagal jantung dan demensia.

Seperti dilansir Daily Mail, sebuah penelitian terhadap lebih dari 85.500 orang Inggris dan Skandinavia menemukan mereka yang bekerja berjam-jam jauh lebih mungkin untuk mengembangkan penyakit ini selama 10 tahun berikutnya.

Temuan yang dipublikasikan di European Heart Journal, mengungkapkan bahwa untuk setiap 1.000 orang dalam penelitian ini, ada tambahan 5,2 kasus fibrilasi atrium terjadi di antara mereka yang bekerja berjam-jam.

Baca Juga: Tidur Malam Selama 7 Jam 6 Menit Bisa Buat Hidup Sangat Bahagia
Ini Yang Terjadi Pada Tubuh Jika Kurang Waktu Tidur

Pemimpin studi Profesor Mika Kivimaki, dari University College London, mengatakan: "Temuan ini menunjukkan bahwa jam kerja yang panjang dikaitkan dengan peningkatan risiko atrial fibrillation, aritmia jantung yang paling umum.

"Ini bisa menjadi salah satu mekanisme yang menjelaskan peningkatan risiko stroke yang diobservasi sebelumnya di antara mereka yang bekerja berjam-jam," katanya.

Tim menemukan 1.061 kasus baru atrial fibrillation terjadi selama penelitian - tingkat kejadian 12,4 per 1000 orang. Tapi di antara 4.484 orang yang bekerja lebih dari 55 jam, kejadiannya adalah 17,6 per 1000 orang.

"Mereka yang bekerja berjam-jam memiliki risiko 1.4 kali lebih tinggi untuk mengembangkan fibrilasi atrium, bahkan setelah kami menyesuaikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi risiko, seperti usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, obesitas, waktu senggang fisik Aktivitas, merokok dan penggunaan alkohol berisiko," ungkap Prof Kivimaki. 

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya