she.id

Sejarah Mukena, Hasil Adaptasi Islam di Pulau Jawa

Sejarah Mukena, Hasil Adaptasi Islam di Pulau Jawa
Mukena banyak digunakan di Indonesia, Malaysia, dan negara Asia Tenggara (IG ninazatulini22)

She - Tahukah kamu, mukena yang akrab kita gunakan sehari-hari untuk salat merupakan upaya para Wali Songo mengasimilasi syariat agama Islam dan cara berpakaian perempuan di pulau Jawa kala itu.

Pemakaian mukena hanya dikenal di Indonesia, Malaysia, dan kawasan Asia Tenggara. Sebutannya berbeda-beda. Orang Melayu  menyebutnya telekung, sementara di Jawa dikenal dengan nama rukuh.

Mukena adalah pakaian khusus yang digunakan untuk salat berupa pakaian longgar yang menutup kepala dan seluruh anggota tubuh lain kecuali muka dan telapak tangan. Mukena bisa terdiri dari dua potong pakaian berupa rok dan kerudung panjang  atau hanya satu piece berbentuk abaya yang menutupi kepala sampai mata kaki. Warnanya pun bisa beragam. Jika dulu mukena identik dengan warna putih, kini mukena bisa ditemui dalam berbagai macam warna.

Dikutip dari wikipedia, mukena adalah produk budaya khas Indonesia dan merupakan hasil adaptasi yang dilakukan oleh para wali zaman dahulu. Ketika itu, cara berbusana perempuan Indonesia adalah mengenakan kemben yang memperlihatkan dada bagian atas hingga kepala. Untuk menyesuaikan dengan cara berbusana Islam dan bisa digunakan untuk salat, maka dibuatlah mukena yang sederhana, tetapi bisa menutupi seluruh anggota badan kecuali wajah dan telapak tangan.

Baca Juga: Begini Cara Sederhana Bahagiakan Suami, Penting Dibaca Para Istri
Tampil Modis dengan Sentuhan Jepang ala Rahmalia Aufa Yazid
Waspadai Empat Bahaya Flu Yang Mematikan

Asal kata mukena sendiri merupakan serapan dari bahasa arab “miqna” yang artinya menutup, sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mukena berarti kain selubung berjahit (biasanya berwarna putih) untuk menutup aurat wanita Muslim pada waktu salat. Yang pasti, mukena merupakan bentuk kompromi para penyebar agama Islam di Indonesia dalam menerapkan syariat Islam, yang kala itu banyak perempuan masih memakai pakaian agak terbuka dan tidak menutupi kepala. Dan tentu saja pakaian tersebut tidak bisa menutup aurat yang menjadi satu keharusan dalam menunaikan salat.

Meski demikian, memakai mukena bukan merupakan syarat sah salat. Perempuan di negara-negara lain tidak mengenal mukena untuk pakaian salat mereka. Ada yang hanya mengenakan pakaian sehari-hari yang longgar, ada juga yang menambahkan abaya (baju panjang) yang tentu saja kesemuanya harus menutup aurat sebagaimana disyariatkan dalam Islam.

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya