she.id

Ini 6 Ilmuwan Perempuan Pionir Pengembangan Sains di Timur Tengah

Ini 6 Ilmuwan Perempuan Pionir Pengembangan Sains di Timur Tengah
Jumlah mahasiswi bidang STEM di Arab lebih banyak dari universitas di Amerika atau Eropa (courtesy: L'oreal-UNESCO)

She - Enam ilmuwan perempuan asal Timur Tengah: Dr. Maryam Al Yammahi (UAE), Dr. Fatma Al Ma’Mari (Oman), Dr. Wafa Audah Altalhi (Saudi Arabia), Dr. Nour Alsabeeh (Kuwait), Wafaa Ramadan (UAE), dan Asma Al Amoodi (Saudi Arabia) menerima penghargaan beasiswa dari L’Oreal-UNESCO Science Middle East Fellowship ke-6 yang digelar di W Hotel, Dubai, pada 10 November 2019 waktu setempat.

Empat peneliti dari kategori Post-doctorate masing-masing mendapatkan uang sebesar 20 ribu Euro sedangkan dua peneliti dari kategori mahasiswa P.hD masing-masing mendapatkan 8 ribu Euro atas riset mereka yang berkontribusi terhadap dunia sains, dilansir dari laman resmi Khalifa University.

Keenam ilmuwan perempuan tersebut telah membuktikan kontribusi mulia mereka terhadap komunitas sains di wilayah Timur Tengah. Seperti tagline yang dikibarkan dalam L’Oreal-UNESCO Science Middle East Fellowship yaitu “The world needs science and science needs women, because women in science have the power to change the world.”

Mengutip harpersbazaararabia.com, jumlah perempuan yang mengambil pendidikan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) semakin banyak. Menurut data UNESCO, sebanyak 34 hingga 75 persen lulusan STEM di negara-negara Arab adalah perempuan. Angka statistik tersebut bahkan jauh lebih tinggi daripada universitas-universitas di Amerika atau Eropa.

Tahun ini, program beasiswa ini mendapat dukungan dari H. E. Sarah bint Yousef Al Amiri, Minister of State of Advanced Sciences dan bermitra dengan Khalifa University of Science and Technology.

Baca Juga: Gigih Lawan Karhutla, Guru Besar IPB Raih John Maddox Prize 2019
Dhitta Puti Sarasvati: Jangan Sampai Indonesia Buta Matematika

“Program ini penting untuk menghargai kesuksesan perempuan di berbagai bidang sains. Dengan menjadikan riset sebagai kegiatan yang bebas bias gender, kita akan mendapat dampak yang lebih besar. Saya berharap para penerima beasiswa akan sukses untuk melanjutkan penemuan-penemuan selanjutnya yang menjadi jawaban dari banyak tantangan di bidang sains saat ini,” ujar Menteri Sarah.

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya