she.id

Fast Fashion dan Bahayanya Untuk Masa Depan Dunia

Fast Fashion dan Bahayanya Untuk Masa Depan Dunia
Pencemaran lingkungan di balik nama mentereng brand dunia (courtesy: Bente Stachowske / Greenpeace)

She - Industri fesyen belakangan mulai menjadi sorotan terkait isu pencemaran lingkungan dan pelanggaran HAM. Istilah Fast Fashion mengacu pada perputaran produk fashion yang sangat cepat guna memenuhi selera konsumen yang cepat berubah.

Lalu bagaimana proses industri fast fashion itu sendiri bekerja? Bagaimana sebuah baju yang kita kenakan saat ini melalui proses panjang dan penuh “pengorbanan” baik dari sisi kemanusiaan maupun lingkungan.

Fast Fashion adalah istilah yang digunakan oleh industri tekstil untuk mendeskripsikan koleksi busana murah mengikuti tren merek-merek eksklusif yang diproduksi dalam waktu cepat.

Dahulu proses produksi tren busana dari catwalk yang sifatnya eksklusif ke konsumen secara luas membutuhkan waktu hingga enam bulan sesuai dengan pergantian musim. Namun dengan konsep pergantian mode yang cepat dalam kurun waktu tertentu, pergantian tren tidak hanya berganti sesuai musim tapi setiap bulan.

Keinginan manusia ingin selalu tampil modis dan trendi membuat mereka merasa lekas bosan dan dengan mudah mengganti isi lemarinya dengan koleksi pakaian terbaru. Elizabeth Cline, penulis buku Overdressed: The Shockingly High Cost of Cheap Fashion mengatakan harga yang terjangkau dan cepatnya produksi model busana terbaru menjadikan nilai guna pakaian bergeser tak lebih dari sebagai nilai tanda dan bentuk identitas sosial.

Bahayanya, industri fast fashion menghasilkan limbah yang tidak sedikit karena setiap potong pakaian yang kita miliki membuat limbah yang sama seperti limbah dari industri migas dan batubara.

Dampak negatif dari fast fashion termasuk di dalamnya penggunaan pewarna tekstil yang meyumbang pencemaran air terbanyak kedua setelah pertanian. Bahkan hampir di setiap tahapan dalam rantai proses industri tekstil melibatkan air yang tidak sedikit.

Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), industri mode merupakan pengguna air terbesar di dunia. Selain itu, sekitar 20% air limbah secara global juga jadi hasil pembuangan industri fesyen. Bahkan, industri mode melepaskan setengah juta ton serat mikro sintetis ke laut setiap tahunnya akibat pencucian bahan tekstil nonrenewable seperti nylon dan polyester yang berdampak pada meningkatnya kadar plastik di lautan.

Isu lingkungan bukan satu satunya dampak dari pesatnya industri fast fashion, pelanggran HAM juga kembali jadi sorotan karena terjadinya eksploitasi terhadap para pekerja. Industri fast fashion rata rata memperkerjakan buruh dari negara dunia ketiga seperti Bangladesh, Cina, Vietnam, dan Indonesia dengan upah rendah, keselamatan kerja yang tidak terjamin, dan jam kerja yang tidak sesuai aturan.

Baru-baru ini, industri fesyen dunia juga mendapat sorotan tajam terkait dugaan kerja paksa Muslim Uighur di perkebunan kapas di Xinjiang, Cina. Selama ini, Cina menjadi pemasok utama kapas dengan 22% dari total produksi kapas dunia. Isu tersebut bahkan menyeret nama-nama besar seperti H&M, Uniqlo, hingga Adidas meski kemudian dibantah oleh para perwakilan brand.

Baca Juga: Desainer Indonesia Siap Wujudkan Fesyen Etis & Berkelanjutan
Ini Dia Pilihan Model Sepatu, Bikin Penampilan Makin Modis

Di Indonesia, untuk memutus rantai fast fashion, sudah banyak desainer dan fashion brand yang mulai mengaplikasikan sustainable and ecthical fashion dalam kegiatan produksi mereka. Meski masih jauh panggang dari api, langkah awal mereka tentu harus diapresiasi dan didukung demi dunia masa depan yang lebih baik.

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya