she.id

Menyambut Kehadiran Buah Hati, Bagaimana Adabnya dalam Islam?

Menyambut Kehadiran Buah Hati, Bagaimana Adabnya dalam Islam?
Ilustrasi ibu hamil bahagia (pinterest/ tasneem dahduli)

She - Islam mengatur bagaimana adab yang mesti dilakukan orangtua saat menyongsong kelahiran bayi mereka. Di antara hak seorang anak ketika ia lahir adalah mendapat nama yang bagus dari orangtuanya.

Bayi yang baru lahir juga berhak disambut dengan penuh kegembiraan oleh keluarga, terutama ayah dan ibunya. Tak hanya itu, Islam juga memerintahkan kepada umatnya untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap bayi laki-laki dan bayi perempuan dalam semua hal.

Haram hukumnya orangtua menolak kehadiran bayi perempuan atau melakukan sesuatu yang bisa menyakitinya.

Mengenai adab memberi nama yang baik kepada bayi, ada beberapa dalil syar'i yang bisa dijadikan rujukan oleh kaum Muslim. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Di antara hak anak atas ayahnya adalah menerima nama yang baik dan (kewajiban ayah atas anaknya adalah) memperbagus adabnya," (HR al-Baihaqi dan Haitsami dengan sanad hasan).

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Darda ra., Nabi Muhammad saw. bersabda, "Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Oleh karena itu, perbaguslah nama kalian," (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban, dan ad-Darimi dengan sanad hasan).

Sementara, perintah untuk menyongsong kehadiran bayi dengan rasa suka cita dapat ditemukan pada hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Samurah ra. Dalam hadis itu, Rasulullah saw. bersabda, "Seorang anak itu tergadai dengan akikahnya. Maka hendaklah disembelihkan (domba/kambing) untuknya pada hari ketujuh, diberi nama, dan dipotong rambutnya," (HR Ahmad, Abu Daud, an-Nasai, dan at- Tirmidzi dengan sanad sahih).

Syariat Islam mengharamkan sikap membeda-bedakan atau melebihkan anak yang satu dengan yang lainnya. Tidak peduli apakah perbedaan itu disebabkan oleh kondisi anak itu sendiri, karena orang tuanya, atau karena dampak undang-undang terhadapnya.

Seperti halnya tidak boleh berlaku diskriminasi terhadap anak karena warna kulitnya, kewarganegaraannya, jenis kelaminnya, bahasanya, afiliasi politiknya, kekayaannya, tempat lahirnya, asal-usulnya (apakah berasal dari kota atau desa), dan hal-hal lain yang membuat anak terlihat berbeda.

Pada bab kelima pasal pertama ayat 98 Piagam Keluarga Islam yang dirumuskan oleh Komite Islam Internasional untuk Perempuan dan Anak (IICWC) disebutkan, Allah SWT memuliakan Adam dan keturunannya tanpa membedakan warna kulit, tsaqafah, hadharah (peradaban), ataupun bentuk-bentuk lain yang mewakili identitas mereka.

Baca Juga: Ingat Muslimah, Malumu adalah Perhiasanmu
Protes Muslim Uighur, TikTok Minta Maaf Hapus Video Feroza Aziz

Allah berfirman, "Dan sesungguhnya Kami muliakan anak-anak Adam; Kami angkut mereka di daratan dan di lautan; Kami berikan mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas banyak makhluk yang telah Kami ciptakan," (QS al-Isra [17]: 70).

Konsep kesamaan manusia di mata Allah ini juga dapat ditemukan dalam khutbah wada Rasulullah, "Wahai sekalian manusia, ketahuliah bahwa Tuhanmu satu, nenek moyang kalian juga satu. Tidak ada kelebihan antara orang Arab dengan non-Arab, antara kulit merah, kulit hitam, dan kulit putih, kecuali (yang dapat membuat kalian dinilai lebih itu adalah) dengan takwa," (HR Ahmad dengan sanad sahih).

Dalil-dalil di atas semakin memperkuat larangan Islam atas sikap diskriminasi orangtua terhadap anak-anaknya. Sudah sepantasnya setiap anak mendapat kasih sayang yang sama dari ayah ibunya.

 

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya