she.id

Nadiem Makarim: Jadi Menteri Demi Dapat Pujian dari Sang Ibu

Nadiem Makarim: Jadi Menteri Demi Dapat Pujian dari Sang Ibu
Foto Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (Sumber Google)

She - Banyak pihak bertanya-tanya mengapa seorang founder startup ternama Indonesia memilih untuk meninggalkan perusahaan rintisannya demi mengabdi untuk negara.

Jika dinilai dari materi misalnya, kekayaan fantastis Nadiem Makarim dari GoJek yang sebesar 1,4 triliun rupiah tentu sangat jauh dari gaji menteri sebesar 13,8 juta rupiah yang diterimanya setiap bulan.

Lantas, mengapa suami Franka Franklin itu memilih menerima tawaran Presiden Joko Widodo untuk mengurusi bidang pendidikan yang sangat kompleks itu?

Ternyata, Nadiem menyimpan ‘dendam’ untuk bisa dipuji sang Ibu.

Baca Juga: Pidato Nadiem Makarim Untuk Hari Guru Nasional, Isinya Beda!
Salut, Dai Asal Cirebon Jadi Duta Perdamaian & Dakwah ke Inggris

Nadiem menceritakan betapa ibunya tidak pernah memuji prestasi yang ia torehkan sejak kecil. Setinggi apa pun nilai yang didapat, Nadiem tak pernah mendengar kata-kata indah dari sang Ibu sebagai penghargaan atas kerja kerasnya.

Saat remaja, Nadiem menanyakan alasan tentang ibunya yang tidak pernah memuji. Mau tahu apa jawaban ibunda Nadiem?

“Buat apa dipuji, memang kamu sudah pernah melayani negerimu?”

Kata-kata tersebut membuka pemikiran Nadiem muda. Bahkan, setelah lulus dari perguruan tinggi ternama di dunia, Harvard, sampai sukses mengukir prestasi melalui GoJek, ibunya bergeming untuk memuji.

Hingga akhirnya Nadiem memikirkan bakti untuk negara melalui jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang ditawarkan padanya.

Dan akhirnya, pujian itu datang juga.

“Saya bangga dengan kamu.”

Kata-kata sang Ibu itu meluncur melihat keberanian Nadiem menerima tantangan untuk mengurus bidang pendidikan dengan permasalahannya yang kompleks.

Menurut Nadiem, jika semua orang hanya memikirkan bagaimana mendapatkan uang banyak, maka negeri ini akan jalan di tempat. Maka, mengapa ia meninggalkan GoJek, karena menurutnya (dan menurut sang Ibu), kepemimpinan seseorang belum lengkap jika belum melayani rakyat.

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya