she.id

Tradisi Membaca Kitab Kuning Yang Perlu Dilestarikan Para Santri

Tradisi Membaca Kitab Kuning Yang Perlu Dilestarikan Para Santri
Santri memaknai kitab kuning saat kilatan kitab di Masjid Ponpes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Rabu (8/6). Kiltan kitab kuning tersebut merupakan tradisi di pondok pesantren untuk mengisi bulan suci ramadan. (ANTARA FOTO/Syaiful Arif)

She - Kitab kuning merupakan salah satu khazanah dan kekayaan Indonesia warisan pesantren yang harus dipelihara. Kitab kuning tidak hanya berisi tentang ajaran Islam, tapi juga hikmah dan tradisi intelektual. Melalui kitab kuning, banyak sarjana Muslim klasik lahir dan mewarnai dunia intelektual Indonesia. 

Bahkan, pesantren melalui kajian kitab kuning memiliki tradisi diskusi dan debat yang konstruktif dan argumentatif melalui bahtsul masa'il (pembahasan masalah-masalah hukum) dengan referensi pandangan para ulama yang beragam. Dari tradisi inilah para santri diajarkan mengenal dan menghargai perbedaan

“Tradisi ini telah menempa para santri terbiasa mengenal perbedaan-perbedaan dalam berpendapat dan tidak membuat mereka harus bersitegang atau saling memaki-maki orang yang berbeda. Sejatinya perbedaan itu adalah kekayaan yang harus dirawat,” ujar Anggota Komisi VIII Fraksi PPP DPR, Iip Miftahul Choiri.

Menurut dia, tradisi membaca kitab kuning perlu dilestarikan agar umat Islam bisa mengkaji agama Islam langsung kepada kitab klasik karangan para ulama yang sudah terbukti keilmuannya. Kajian kitab ini, kata dia, merupakan solusi di tengah maraknya berita bohong terkait keagamaan yang marak saat ini.

Baca Juga: Begini Cara Mudah Meredam Amarah Versi Rasulullah
Saat Kamu Tergoda Pria Idaman Lain…

Karena itu, menurut dia, sejak tahun lalu Al-Muallim Center secara berkala menggelar Workshop Cara Cepat Baca Kitab Kuning Metode Muallim di puluhan daerah di Indonesia. Terakhir, workshop digelar di Gedung Bangkit Rangkasbitung Lebak Banten pada 7-8 Desember 2019 ini.

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya