she.id

Moms, Hadirlah Utuh Agar Anakmu Bisa Menikmati Indahnya Dunia

Moms, Hadirlah Utuh Agar Anakmu Bisa Menikmati Indahnya Dunia
Orangtua harus menanamkan self control untuk mencetak generasi tangguh di masa depan.

She - Siapa pun pasti merasa sedih dan gusar mendengar berita meninggalnya N, siswi SMPN 147 Cibubur, Jakarta Timur setelah mencoba bunuh diri dengan cara terjun dari lantai 4 sekolahnya. Terlebih lagi para ibu atau para calon ibu. Betapa ngeri membayangkan anak-anak praremaja ini sudah memikirkan tentang mengakhiri hidup di usia belia.

Bullying disebut-sebut sebagai satu permasalahan kritis yang demikian kuat menggerogoti self control para teenagers. Meski kepala sekolah membantah bahwa terjadi praktik perundungan di sekolah, toh, bullying memang bisa berwujud sangat ‘halus’ secara verbal, termasuk di dunia maya.

Psikolog Anak dan Remaja Novita Tandry menyatakan keprihatinannya terhadap kasus tersebut. Ia menyodorkan fakta dan kritiknya bagi para orangtua yang disebutnya sebagai spoiled parents.

Berikut tulisan Novita yang marak beredar di jagat chat group.

70% anak remaja yang dikirim orangtuanya untuk konseling dengan saya mengeluh ingin mengakhiri hidupnya. Kaget?

Kata mereka: Untuk apa hidup? Kalau nanti toh semua orang juga pasti mati! Mati sekarang aja. Malah keren mati muda dan enggak usah capek-capek sekolah, les bimbel, dll terus dari hari Senin smp Minggu (yess! Literally 7 hari seminggu) dimarahi terus, ditakut-takuti terus, mati aja, ach!

Tidak mudah menjadi Psikolog Anak & Remaja di Generasi Alpha ini. Selain sebagai pendengar mereka, psikolog juga harus cerdas luar biasa, karena pengetahuan mereka luas sekali tapi ironisnya ketahanan diri yang rendah dibandingkan generasi sebelumnya.

Jadi bukan melulu karena perundungan yang bahasa kerennya, bullying! Tapi karena orangtuanya tidak 'hadir' dalam kehidupannya, hanya bisa menuntut supaya anak mengerjakan yang mereka inginkan tapi tidak diberikan contoh dengan menggunakan akal budinya untuk berpikir!

Ajarkan anak dengan contoh, apa itu Self Control: bisa membedakan yang benar dan salah (wisdom), tangguh dan punya ketahanan diri, punya mental yang kuat, bukan dilayani terus, diikuti maunya terus yang penting nilainya bagus!

Spoiled parents akan menjadikan spoiled children yang manipulatif, mediocre, demanding, tantrums tanpa akhir, sulit menerima tekanan, mudah stres, mudah menyerah, suka mengeluh dan maunya instan alias cepat jadi! Dan kalau ketemu masalah, sederhana (solusinya), bunuh diri!

Wake up call yah, parents.. berkali-kali saya ngoceh, HADIR, DENGARKAN ANAKMU dengan HATI dan jadi TELADAN! Jangan hanya melahirkan anak, tapi please, didiklah mereka. Kalau tidak, maka teknologi yang mendidik mereka dan menjadikan mereka AI (Artificial Intelligence) yang tanpa emosi, empati, dan daya juang.

Baca Juga: Malas Mencatat Pemasukan-Pengeluaran, Hati-Hati di Hari Kiamat
Laksmira Ratna Bayuardi: Siapa Yang Mengenal Anak Lebih dari Ibu?

Terkait bullying, Komisi Perlindungan Anak (KPAI) menyebutkan mayoritas sekolah tidak memiliki sistem untuk mengaplikasikan Permendikbud No. 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Padahal menurut catatan KPAI ada 107 anak yang menjadi korban perundungan di tahun 2018.

Hampir semua sekolah tidak memiliki sistem pengaduan yang melindungi korban dan saksi perundungan. Padahal, sistem tersebut wajib ada di sekolah. Sistem tersebut mencakup kepala sekolah, perwakilan guru, siswa, dan orangtua.

Dalam Permendikbud itu sekolah juga diwajibkan memasang papan layanan pengaduan tindak kekerasan yang mudah diakses siswa, orangtua, dan guru berupa nomor telepon dan alamat email. Ketiadaan tim pencegahan membuat siswa tidak memiliki keberanian melaporkan perundungan yang ia alami.

Mengutip tempo.co, Psikolog Seto Mulyadi menjelaskan bahwa perundungan atau perisakan bisa berdampak pada tindakan bunuh diri jika terjadi terus-menerus dan tidak dituntaskan. “Remaja sifatnya kompleks, punya harga diri. Dan jika tidak ada seorang pun yang dapat memahaminya, ia bisa mudah teralienasi ke tempat lain alias bunuh diri,” kata Kak Seto.

 

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya