she.id

Apakah Kamu Seorang People Pleaser? Kenali Ciri dan Bahayanya

Apakah Kamu Seorang People Pleaser? Kenali Ciri dan Bahayanya
Kapan kamu akan memikirkan yang terbaik untuk dirimu sendiri? (bomme fela)

She - Jika kamu seringkali mengatakan “ya” pada orang lain padahal hati kecilmu mengatakan “tidak” dengan alasan tidak mau mengecewakan orang tersebut, maka kamu adalah seorang people pleaser.

Atau bisa jadi, dalam meeting departemen di kantor, kamu kerap mengiyakan opini rekan kerjamu padahal kamu memiliki pendapat sendiri yang berbeda.

Amy Morin, seorang psikoterapis, mengatakan bahwa menyenangkan orang lain adalah tanda adanya masalah tentang kerpercayaan diri seseorang. Kamu merasa jika selalu mengatakan “yes” untuk apa pun yang dikatakan atau diinginkan orang lain, membuatmu merasa diterima dan disukai, dikutip dari lifehack.org.

Bisa jadi, kamu tidak menyadari hal itu atau menganggap mengiyakan pendapat orang lain adalah wajar. Padahal itu sangat salah karena berbahaya secara psikologis.

Baca Juga: Isyana Sarasvati Menikah: Akhir Indah Kisah Cinta Sejak SMP
Adem Banget! Intip Potret 5 Artis yang Mantap Berhijab di 2019

Seorang people pleaser mungkin pernah mengalami perundungan, diskriminasi, atau ketidaknyamanan lainnya di masa lalu. Pengalaman buruk tersebut membuatnya mengambil satu sikap yaitu melindungi diri dengan cara menyetujui apa pun yang dikatakan orang lain. Pleasing people diyakini akan membuatnya aman.

Rasa untuk bisa diterima dalam satu komunitas itu merupakan kebutuhan manusia dalam bersosialisasi. Namun, apakah sehat untuk merasa diterima dengan menjadi people pleaser?

Inilah bahayanya: Jika kamu terus-menerus meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentinganmu sendiri, maka kamu sangat mungkin akan ‘meledak’ dan kehilangan arah. Jika kamu selalu mengenyampingkan pendapatmu demi menerima pendapat orang lain, kamu bisa kehilangan sudut pandangmu!

Apa dampaknya?

Pikiranmu akan menjadi samar dan buram. Kamu tidak bisa lagi mengatakan “saya mau” tapi lebih kepada “saya seharusnya…”. Kamu pun menjadi tidak yakin dengan apa yang kamu percaya dan sangat sulit untuk memahami apa yang kamu sebenarnya inginkan.

Jika kebiasaan pleasing people ini berlangsung dalam waktu lama, akan mengakibatkan ketidakbahagiaan dan kamu akan merasa hampa. Kamu tidak dapat memaksimalkan potensi terbaikmu karena kondisimu memicu lahirnya depresi.

Sadarlah. Hidup hanya sekali dan hiduplah yang berarti. Kamu harus segera berhenti menjadi people pleaser. Ingat, tidak ada kebahagiaan yang didapat dari menyenangkan orang lain. Kemunafikan hanya akan melahirkan keburukan. Ayo bangkit dan jangan menengok ke belakang!

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya