she.id

Ini Kata Psikolog Cara Tepat Mendidik Anak Laki-Laki

Ini Kata Psikolog Cara Tepat Mendidik Anak Laki-Laki
Karena anak laki-laki adalah calon imam bagi keluarganya, didiklah ia untuk menjadi tangguh. (shutterstock)

She - Tujuan utama mendidik anak adalah menjadikannya tangguh di masa depan sebagai pribadi yang berkarakter unggul dan berakhlak mulia.

Dalam mendidik anak, orangtua tidak boleh membedakan gender anak terkait kualitas yang diberikan. Dalam arti, untuk urusan menuntut ilmu juga menambah pengetahuan dan keterampilan, anak laki-laki dan anak perempuan harus memiliki kesempatan yang sama.

Meski demikian, dari latar belakang psikologis, ada beberapa panduan yang bisa dijalankan orangtua dalam menghadapi anak laki-laki. Beberapa tips berikut ini diberikan oleh Dr. E. Magdalena Battles, seorang psikolog anak dan keluarga, founder Living Joy Daily.

Hadirkan Good Values. Orangtua harus memiliki nilai utama yang akan menjadi warisan bagi si kecil. Nilai itulah yang akan dipegang teguh oleh anak hingga ia dewasa. Ketika moms selalu mengutamakan kepentingan orang lain dan memegang teguh adab kesopanan saat berbicara dengan orang yang lebih tua, maka anak di kemudian hari akan menjadi pribadi penolong dan pandai menempatkan diri.

Sebaliknya, ketika moms selalu menekankan pentingnya mendahulukan kepentingan diri sendiri, bisa jadi akan sangat sulit baginya mengenal konsep berbagi atau memandang suatu hal dari angle berbeda.

Baca Juga: Jangan Ditunda, Kelola Stres dengan 4 Cara Cerdas Ini
Stres Wajar Tapi Harus Dikelola dengan Benar

Dukung Si Kecil Mengejar Mimpi. Jadilah penyemangat nomor satu bagi si kecil dalam mengejar mimpi dan cita-citanya. Jelaskan pada si kecil bagaimana cara menggapai mimpi itu agar anak paham perjuangan apa yang harus ia lakukan.

Ajarkan Untuk Bangkit Setelah Gagal. Anak laki-laki harus memiliki mental kuat. Karena itu, jangan pernah mengumbar keindahan dunia, tapi yakinkan anak bahwa kegagalan adalah jalan yang harus ditempuh untuk bisa meraih kesuksesan. Dengan begitu, anak memahami bahwa “jatuh bangun” bukan sebuah proses yang harus dihindari, melainkan dinikmati.

Artikel ini bermanfaat?
sekarang juga!

komentar

Terbaru Lainnya